Sabtu, 10 Oktober 2015
Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian
Sosialisasi adalah suatu proses sosial yang terjadi apabila seseorang
mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang cocok dengan perilaku
kelompoknya. Peter L. Berger, sosiolog dari Amerika Serikat menjelaskan
bahwa sosialisasi adalah proses pada seorang anak yang sedang belajar
menjadi anggota masyarakat. Adapun yang dipelajari dalam proses sosialisasi
adalah peranan pola hidup dalam masyarakat yang cocok dengan nilai dan
norma ataupun kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian,
anak itu dapat menjadi anggota masyarakat. Dia akan dapat menyelaraskan
dirinya dengan lingkungan masyarakatnya.
Sosialisasi adalah proses belajar mengajar tentang pola-pola tindakan
interaksi dalam masyarakat sesuai dengan peran dan status sosial yang
dijalankan masing-masing. Dengan proses itu, individu akan mengetahui dan
menjalankan hak dan kewajibannya berdasar peran status masing-masing
dan kebudayaan suatu masyarakat.
Tujuan sosialisasi sebagai berikut.
1. Memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada seseorang untuk
dapat hidup bermasyarakat.
2. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi
secara efektif dan efisien.
3. Membuat seseorang mampu mengembalikan fungsi-fungsi melalui latihan
introspeksi yang tepat.
4. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang
mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.
Di samping proses sosialisasi masyarakat juga terjadi proses enkulturasi
atau proses pembudayaan, yaitu mempelajari kebudayaan sendiri dengan cara
mempelajari adat istiadat, bahasa, seni, agama, dan kepercayaan yang hidup
dalam lingkungan kebudayaan masyarakat.
Proses sosialisasi dan enkulturasi berlangsung dari generasi tua ke generasi
muda melalui tahapan tertentu. Misalnya, seorang anak mempelajari
kehidupan dimulai dari lingkungan keluarganya, meluas ke tetangga, teman
sebaya, dan lingkungan sekolah.
1. Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai
dengan peranan yang dijalankan. Biasanya sosialisasi itu berangkai dengan
kepribadian dan kebudayaan. Manusia adalah makhluk sosial, hampir
semua kegiatannya dilakukan bersama dengan manusia lainnya.
84
Manusia sejak lahir memiliki hasrat sosial sebagai berikut.
a. Hasrat menyatu dengan masyarakat atau manusia lain yang berbeda di
sekitarnya.
b. Hasrat menyatu dengan lingkungan alam di sekitarnya.
Untuk menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan itu, manusia
menggunakan akal dengan membentuk kelompok-kelompok sosial supaya
dapat bekerja sama mencapai sesuatu yang diinginkannya. Misalnya
menangkap ikan di sungai, berburu di hutan, membuat rumah, membuat
peralatan hidup, mengerjakan tanah pertanian, dan lain-lain.
2. Pembentukan Kepribadian
Proses perkembangan manusia, sebagai manusia yang berkepribadian
atau makhluk sosial itu dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Menurut
F.G. Robbins ada lima penyebab yang menjadi dasar kepribadian itu, antara lain:
a. Sifat Dasar
Sifat dasar, adalah keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi
oleh seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar itu terbentuk
pada saat konsepsi, yaitu saat terjadi hubungan suami/istri. Sifat dasar
yang masih adalah potensi-potensi juga dipengaruhi faktor-faktor
lainnya.
b. Lingkungan Prenatal
Lingkungan prenatal, adalah lingkungan dalam kandungan
ibu. Sel telur yang sudah dibuahi pada saat terjadi hubungan suami/istri
itu berkembang sebagai embrio dalam lingkungan prenatal. Pada periode
prenatal ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung
dari ibu.
Pengaruh-pengaruh itu antara lain:
1) struktur tubuh ibu (daerah panggul), adalah kondisi yang
mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan;
2) beberapa jenis penyakit, seperti: kanker, diabetes, siphilis, hepatitis,
berpengaruh tidak langsung pada pertumbuhan bayi dalam
kandungan.
3) gangguan endoktrin, dapat berakibat keterbelakangan
perkembangan anak; dan
4) shock pada saat melahirkan, dapat mempengaruhi kondisi
menyebabkan bermacam-macam kelainan seperti: cerebral, palsy, dan lemah pikiran.
85
c. Perbedaan Individual Atau Perbedaan Perorangan
Perbedaan individual adalah salah satu penyebab yang mempengaruhi
proses sosialisasi. Sejak saat anak dilahirkan oleh ibunya, anak tumbuh
dan berkembang sebagai individu yang unik dan berbeda dengan individu
lainnya. Ia bersikap selektif pada pengaruh dari lingkungan.
Perbedaan perorangan ini meliputi perbedaan-perbedaan ciri-ciri fisik
seperti warna kulit, warna mata, rambut, dan bentuk badan, serta ciri-
ciri personal dan sosial.
d. Lingkungan
Lingkungan di sekitarnya, yaitu kondisi-kondisi di sekeliling individu
yang mempengaruhi proses sosialisasinya. Lingkungan itu dapat
dibedakan menjadi 3 sebagai berikut.
1) Lingkungan alam, yaitu keadaan iklim, tanah, flora, fauna, dan
sumber daya di sekitar individu.
2) Lingkungan kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat tempat
individu itu hidup. Kebudayaan ini memiliki aspek material
(rumah, perlengkapan hidup, hasil-hasil teknologi lainnya), dan
aspek non materiil (nilai-nilai pandangan hidup, adat istiadat, dan
sebagainya).
3) Lingkungan manusia lain dan masyarakat di sekitar individu. Pengaruh
manusia lain dan masyarakat di sekitarnya dapat membatasi proses
sosialisasi dan memberi stimulasi pada perkembangannya.
Peranan kondisi lingkungan itu tidak menentukan mutlak, tetapi
membatasi dan mempengaruhi proses sosialisasi manusia. Dalam hal
ini kita juga menolak kebenaran paham determinisme geografis dan
determinisme ekonomi tentang peranan kondisi-kondisi geografis
dan ekonomis pada proses sosialisasi individu.
e. Motivasi
Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam individu yang
menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi ini dibedakan menjadi
dorongan dan kebutuhan.
1) Dorongan adalah keadaan ketidakseimbangan dalam diri individu
karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya yang mempengaruhi
dan mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai
adaptasi atau keseimbangan lagi. Pada diri manusia terdapat dorongan
makan, minum, dan menghindarkan diri dari bahaya yang
mengancamnya.
2) Kebutuhan adalah dorongan yang sudah ditentukan secara personal,
sosial, dan kultural. Kebutuhan-kebutuhan manusia yang penting,
antara lain:
86
a)
b)
c)
d)
e)
f)
kebutuhan bebas dari rasa takut;
kebutuhan bebas dari rasa bersalah;
kebutuhan untuk bersama dengan orang lain;
kebutuhan untuk berprestasi;
kebutuhan akan afeksi;
kebutuhan untuk turut serta mengambil keputusan mengenai
persoalan-persoalan yang menyangkut tentang dirinya;
g) kebutuhan akan kepastian ekonomis; dan
h) kebutuhan akan terintegrasikannya sikap, keyakinan, dan nilai-
nilai.
Kelima penyebab yang menjadi dasar kepribadian manusia itu di atas
dengan melalui proses aksi, reaksi, dan interaksi mempengaruhi proses
sosialisasi manusia.
Bayi yang dilahirkan sebagai makhluk non sosial secara perlahan-lahan
mengalami proses sosialisasi berkembang menjadi manusia dewasa yang
sosial dan bertanggung jawab.
Dalam proses sosialisasi itu tiap-tiap individu atau kelompok
selalu berpegang dan berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma sosial
yang berlaku di sekitarnya. Nilai-nilai dan norma-norma sosial itu
adalah alat pembentuk kepribadian manusia, baik secara individu
atau kelompok. Menurut ahli psikologi beberapa kasus menunjukkan,
bahwa anak yang mengalami isolasi sosial tidak dapat berkembang sebagai
pribadi sosial yang normal. Proses sosialisasi dalam rangka pembentukan
kepribadian berjalan secara simultan dan terjalin satu sama lain. Ada dua
dasar proses sosialisasi manusia dalam rangka pembentukan kepribadian,
yaitu sebagai berikut.
a. Sifat Ketergantungan Antara Manusia Kepada Manusia Lain
Pada masa bayi dan anak-anak, individu bergantung secara biologis
dan sosial pada orang lain. Bayi yang baru lahir sangat bergantung
kepada orang tuanya, baik secara biologis atau sosial. Tanpa
pertolongan dan perlindungan orang tuanya, bayi akan mati. Bahkan
pada masa remaja dan dewasa, manusia masih tetap tergantung secara
sosial pada orang lain.
b. Sifat Adaptabilitas dan Inteligensi Manusia
Karena sifat adaptabilitas dan inteligensi itu manusia mampu
mempelajarimacam -macam bentuk tingkah laku, memanfaatkan
pengalamannya, dan mengubah tingkah lakunya.
Dalam kehidupan masyarakat proses sosialisasi atau belajar sosial ini
adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup (life long process),
bermula sejak lahir sampai mati. Dalam proses sosialisasi setiap individu
87
mendapatkan pengawasan, pembatasan, dan hambatan dari manusia lain.
Di samping itu individu juga memperoleh bimbingan, dorongan, stimulasi,
dan motivasi dari manusia lain. Dalam proses sosialisasi itu individu
bersikap reseptif atau kreatif pada pengaruh masyarakat dan
individu lain.
Gambar 4.1
Kerja sama: Kembar siam asal Salt Lake, Negara bagian Utah, AS,
Maliyah-Kendra akan menjalani proses bedah untuk memisahkan tubuh mereka
di Pusat Kesehatan Anak Minggu lusa. Operasi diperkirakan akan berlangsung
antara 14 - 30 jam. Sejak lahir tubuh keduanya menyatu dari perut ke bawah
dengan posisi berhadapan. Keduanya hanya mempunyai sepasang kaki, satu hati,
dan satu ginjal. Selintas kembar siam itu seperti dua anak yang berpelukan.
Bisa dibayangkan betapa susahnya mereka bergerak. Di sisi lain mereka juga akur,
seperti saat wajib memasang sandal, seperti terlihat pada foto di atas. Anak itu
memerlukan sosialisasi dan perhatian yang besar.
(Sumber: Jawa Pos, 5 Agustus 2006)
3. Tahap-tahap Sosialisasi dan Fungsi Sosialisasi Dalam Pembentukan
Peran dan Status Sosial
Keberhasilan sosialisasi sangat ditentukan oleh kebudayaan suatu
masyarakat. Oleh sebab itu, sosialisasi pada masyarakat yang satu berbeda
dengan sosialisasi masyarakat yang lain. Misalnya, pola pengasuhan pada
masyarakat desa berbeda dengan pola pengasuhan pada masyarakat kota.
Begitu juga sosialisasi anak orang miskin berbeda dengan sosialisasi anak
orang kaya.
Proses sosialisasi terjadi melalui tiga tahap sebagai berikut.
a. Tahap Pertama
Pada tahap pertama, anak mulai belajar mengambil peranan orang-
orang di sekelilingnya, terutama orang yang paling dekat dengan
keluarganya, seperti ayah, ibu, saudara, kakek, dan nenek.
88
b. Tahap Kedua
Pada tahap kedua, anak mengetahui peranan yang harus
dijalankannya dan mengetahui peranan yang wajib dijalankan oleh
orang lain. Apabila anak bermain dalam suatu pertandingan sepak bola,
ia tidak hanya mengetahui apa yang diharapkan orang lain darinya,
tetapi juga sesuatu yang diharapkan dari orang lain ikut bermain.
Ketika bermain sebagai penjaga gawang anak juga mengetahui
peranan-peranan yang dijalankan oleh pemain lain, baik kawan, lawan,
wasit, hakim garis, atau kiper.
c. Tahap Ketiga
Pada tahap ketiga, anak dianggap mampu mengambil peranan
yang dijalankan orang lain dalam masyarakat luas. Misalnya, seorang
anak perempuan yang sudah memahami peranan yang dijalankan oleh
ibunya dan memahami peranan sebagai pengurus OSIS di sekolah.
Adapun fungsi sosialisasi dalam pembentukan peran dan status sosial,
antara lain:
a. dapat mempelajari dan menghayati norma-norma kelompok dia hidup;
b. dapat mengenal lingkungan yang lebih luas di masyarakat;
c. dapat mengenal peranan-peranan anggota masyarakat;
d. dapat mengenal mengenai status sosialnya di masyarakat;
e. dapat mengembangkan kemampuannya sesuai peran dan status
sosialnya.
K ata Kunci
Dengan proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu
pribadi atau makhluk sosial. Pribadi itu adalah kesatuan
integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalui proses
sosialisasi. Sifat-sifat individu itu mempengaruhi hubungannya
dengan orang lain dalam masyarakat.
Sumber : Sosiologi SMA Kelas X
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar